Memiliki penis yang besar panjang dan keras adalah idaman pria disukai wanita. Penis yang besar panjang Adalah sebuah kebanggan serta simbol kejantanan bagi pria. Namun sayang tidak semua pria memilki ukuran yang ideal. Bahkan mayoritas pria merasa kurang puas dengan ukuran penisnya. Kami hadirkan minyak lintah untuk menjadi solusi bagi pria yang ingin menambah ukuran kejantanan nya.
Minyak lintah papua, ramuan tradisional dari pulau papua untuk menambah ukuran dan meningkatkan vitalitas, memperlancar peredaran darah di penis serta memperbaiki kualitas ereksi pada pria. Dengan penggunaan rutin dan cara pakai yang tepat, anda akan mulai melihat perubahan positif pada penis anda di minggu pertama pemakaian. Klaim testimoni dari pengguna minyak lintah hitam papua ini, mereka merasakan penis nya bertambah masa nya, menjadi lebih tebal dan ereksi lebih keras, serta terlihatnya urat urat di penis, sehingga penis terlihat lebih kekar.
Disclaimer:
*) Hasil bervariasi pada tiap orang. Tidak ada jaminan anda akan mendapat hasil yang sama dengan pelanggan yang memberikan testimoni karena banyak faktor mempengaruhi tingkat keberhasilan. Namun intinya, Minyak lintah papua ini layak anda coba karena sudah ada beberapa orang yang memberikan testimoni.
Harga minyak lintah papua hitam kami bandrol hanya 100rb / botol
silahkan hubungi : via WA di 08552320113
Wajib baca:
cara pakai minyak lintah
Jadwal pengiriman paket
Sebelum anda mencoba produk ini, ada baiknya anda membaca referensi tentang lintah di bawah ini.

TERAPI LINTAH BAGI PENGOBATAN MEDIS

Terapi kesehatan dengan menggunakan lintah sebagai medianya sudah bukan hal baru. Sejak berabad-abad silam, mekanisme lintah menarik perhatian para terapis dalam menyembuhkan beragam penyakit. Mengapa lintah yang dipilih? Tak lain karena faktor utama bahwa lintah adalah hewan hematophagus yang mencari makan dengan cara menghisap darah dari inang. Sisi positifnya, dari cara makan lintah ini, hewan ini bisa mengatasi penyumbatan darah lewat sekresi kelenjar saliva yang menghasilkan komponen aktif, salah satunya adalah anticoagulants. (1) Dalam artikel ini, kita akan mengelaborasi lebih lanjut peran penting lintah dalam terapi medis berbagai penyakit seperti jantung, operasi plastik, kanker, diabetes mellitus, hingga komplikasi dan infeksi. Terapi medis dengan lintah hadir sebagai alternatif pengobatan untuk mengatasi sumbatan di pembuluh darah. Bagaimana caranya? Liur dari lintah bisa melancarkan peredaran darah dan memperbaiki jaringan dalam tubuh (17). Beberapa pemaparan fakta ini tidak muncul begitu saja. Jauh sebelumnya pada tahun 1984, beberapa tenaga medis menggunakan media terapi lintah sebagai cara untuk menyembuhkan orang yang mengalami pembengkakan kulit. Dalam hal ini, prosedurnya adalah lintah diaplikasikan pada area yang terdampak sebanyak 2 hingga 4 kali sehari, rutin selama 4 hari. Hasilnya cukup menakjubkan. Tanpa perlu obat kimiawi, luka bisa tersamarkan tanpa ada perbedaan warna dan tak meninggalkan bekas (54). Sekarang, mari mengenal lintah lebih jauh.

Lintah Mudah Beradaptasi

Lintah bisa hidup dan beradaptasi di berbagai kondisi lingkungan, dengan satu benang merah yang sama, yaitu berair. Ada yang hidup di sungai, muara, danau, kolam, rawa, hingga laut. Lintah memiliki kelenjar selaput lendir yang bisa menampung cairan. Fungsi inilah yang membuat lintah dapat beradaptasi dengan mudah meski lingkungannya tidak terlalu basah, seperti rawa-rawa. Lintah juga punya kemampuan motorik fisik yang fleksibel sehingga membuatnya tangguh dalam berbagai kondisi. Bahkan sebut saja saat pasokan oksigen menipis atau terjadi perubahan temperatur secara mendadak dan fluktuatif. Lintah tidak akan terlalu terganggu dengan hal ini karena fleksibilitasnya. Mengingat kelembaban adalah salah satu faktor penting bagi lintah, seringkali mereka ditemukan di area hutan Amerika Utara, Eropa, hingga Asia Tenggara.

Taxonomi dan morfologi minyak lintah

Nama latin dari lintah adalah Euhirudinea, pertama kali ditemukan pada tahun 1758 (3). Secara umum, lintah diklasifikasikan dalam 4 subclass, 3 ordo, 10 families, 16 subfamilies, 131 genre, dan lebih dari 696 spesies (12). Bahkan angka ini tidak hanya berhenti sampai di situ. Penelitian terbaru menemukan bahwa ada lebih dari 1000 spesies lintah di dunia. Menilik ukuran tubuhnya, ukuran lintah bervariasi hingga sekitar 20 cm. Bahkan spesies raksasa seperti Haementaria Ghilianii dari Amazon bisa mencapai 50 cm (14). Sesuai dengan fokus utama fungsi lintah sebagai penghisap darah, maka organ lain yang tidak kalah penting bagi lintah adalah penghisapnya yang bergerak layaknya lokomotif dan bisa menempel di permukaan inangnya (11). Penghisap ini bekerja simultan dengan rahang bawah saat menghisap darah dari inang. Lalu bagaimana cara lintah bernafas? Mereka menggunakan kulitnya sebagai media untuk menghirup oksigen (14). Sementara untuk berkembang biak, lintah tetap membutuhkan pasangan untuk menghasilkan keturunan.

Perkembangan terapi lintah

Lintah dalam bahasa Inggris atau istilah medis dikenal sebagai “leech”. Kata ini diadaptasi dari istilah fisika Anglo-Saxon yaitu “laece” yang mengindikasi bahwa dunia medis dan lintah telah terhubung sejak awal era peradaban (18). Terapis medis sejak lama telah menggunakan fungsi penghisap dari lintah sebagai elemen penting dalam menyembuhkan berbagai penyakit. Kemudian pada Abad Pertengahan, dunia medis kian sering menggunakan terapi lintah untuk mengatasi penyakit yang berakar dari masalah saraf seperti epilepsi, gangguan kemih, hingga masalah organ reproduksi dan pembengkakan (19). Beberapa tenaga medis di Perancis bahkan berani meresepkan terapi lintah bahkan sebelum menemui pasiennya langsung dalam sesi konsultasi. Populernya penggunaan lintah sebagai terapi medis didukung pula dengan pengaplikasiannya yang tidak terlalu sakit bagi pasien. Penghisapan darah oleh lintah hanya terasa sedikit sakit, jauh lebih ringan dibandingkan dengan operasi minor menggunakan pisau bedah (3).

Namun sayangnya popularitas ini pula yang menyebabkan populasi lintah pernah terancam punah. Pada abad 19, praktik jual beli dan perdagangan lintah semakin bergeliat dan membuat semua orang berburu lintah. Otoritas dari Eropa dan Amerika mencari cara, strategi, inovasi, hingga metode lain untuk mengembang biakkan lintah (3). Dan akhirnya pada akhir abad 19, metode terapi lintah mulai ditinggalkan karena tidak sesuai dengan regulasi medis modern dan segala perkembangan di dunia medis (3). Pada saat ini, dunia medis tak lagi menyorotkan lampunya pada manfaat lintah.

Namun meredupnya popularitas terapi lintah, bukan berarti berhenti sama sekali. Pendekatan yang digunakan para pelaku medis pun menjadi berbeda: air liur lintah yang digunakan sebagai media pengobatan (27). Pada tahun 2004, Food and Drug Organization (FDA) secara resmi menyetujui penggunaan lintah untuk keperluan medis (19). Kala itu, ada 2 konsep yang disepakati: pertama, saat lintah menggigit kulit inangnya, kelenjar liurnya akan menyentuh luka atau area kulit yang terbuka. Kedua, bagian lain dari proses sekresi liur ini akan digabung dengan darah yang tertelan agar tetap mempertahankan bentuk cairannya (29).

Mekanisme Biologis Lintah

Dari pemaparan di atas sudah dapat kita simpulkan bahwa lintah adalah hewan fleksibel yang dipetik manfaatnya dari caranya menghisap darah dari inang. Kali ini kita akan menyoroti bagaimana cara lintah bertahan hidup, tentu saja terkait erat dengan caranya mencari makan. Berdasarkan caranya bertahan hidup, ada 2 kategori lintah:

  1. Lintah Predacious

Merupakan lintah yang menjadi predator bagi banyak makhluk invertebrata.

  1. Lintah Sanguivorous

Merupakan lintah parasit yang makan dari darah makhluk vertebrata, termasuk manusia (11). Darah disimpan di dalam tubuhnya dalam waktu cukup lama, mencapai 18 bulan.

Untuk mencari makan, lintah menggunakan rahang bawah dan alat penghisap atau suckers (15). Menariknya adalah, lintah bisa menghisap sebanyak 2-20 mililiter darah dalam waktu 10 hingga 30 menit, dan melepaskan diri dari inangnya kapanpun dia merasa cukup dan tidak ingin lagi menghisap. (16). Pada lintah Sanguivorous disebutkan bahwa darah yang dihisap dari inang disimpan dalam tubuh untuk rentang waktu yang cukup lama, hingga 1,5 tahun. Lalu di sinilah peran bakteri bernama Aeromonas yang berada di usus lintah. Bakteri ini menghasilkan enzim yang bisa memecah komponen darah yang dihisap dari inang saat diendapkan atau disimpan dalam tubuh. Tugasnya tak berhenti hanya sampai di situ. Bakteri baik ini juga berperan penting dalam mencegah pembusukan darah karena rentang waktu penyimpanan yang cukup lama di dalam tubuh lintah.

Di sisi lain, lintah juga menghasilkan zat lain yang berpengaruh pada pembekuan darah, seperti antiplatelet, faktor XA, dan enzim fibrinolytic (41). Bagaimana cara kerjanya? Pertama-tama, potensi antiplatelet yaitu Decorsin diidentifikasi dari Macrobdella Decor dengan kandungan glycoprotein tinggi (42). Kemudian pada tahap kedua, pelekatan platelet dan penghambat aktivasi bernama Calin juga diisolasi dari sekresi liur lintah asal Eropa yaitu H. Medicinalis. Metode ini dipercaya sebagai cara yang paling efektif untuk merangsang terbentuknya kolagen (43). Selain itu, ghilanten (46), lefaxin (2), dan therostatin (47) juga ditemukan dari proses ini. Yang menarik, terjadi pula proses pembelahan fibrinogen menjadi pagar pembekuan darah. Hal inilah yang membuat zat fibrinogen diyakini sebagai alat terapi medis yang sangat menjanjikan (10).

Operasi Kecil Terapi Lintah

Masih banyak perdebatan yang terus bergulir seputar penggunaan kemampuan menghisap darah lintah dalam prosedur operasi medis. Petugas medis sempat mempertanyakan apakah penyumbatan vena adalah langkah penting untuk menekan risiko kerusakan hingga menyelamatkan jaringan halus (50). Rasa lega yang dialami pasien setelah prosedur dilakukan adalah bentuk konsekuensi dari banyak faktor, termasuk seberapa besar area luka, enzim bioaktif yang tersekresi, hingga mekanisme pembekuan darah dalam tubuh pasien (50). Dari faktor ini saja, sudah terlihat bahwa penggunaan lintah sebagai media untuk operasi medis membawa manfaat bagi pasien. Belum lagi ditambah kenyataan bahwa tiap orang memiliki ambang toleransi yang berbeda terhadap rasa sakit.

Di sisi lain, penggunaan lintah dalam prosedur operasi plastik juga diyakini sebagai sebuah inovasi yang tepat. Mengapa? Saat prosedur penghisapan darah lewat terapi lintah diterapkan, hasil lukanya tidak akan sama seperti prosedur yang dilakukan menggunakan pisau bedah. Bekas luka berbentuk serupa huruf “Y” kecil. Situasi ini seringkali membuat area luka pasien bisa sembuh tanpa menimbulkan bekas dan komplikasi apapun (17). Meski demikian, hingga kini belum ada protokol internasional resmi tentang penggunaan terapi lintah dalam prosedur medis yang pernah disepakati bersama. Beberapa peneliti atau praktisi medis pernah berpendapat bahwa aplikasi terapi lintah yang dilakukan selama satu minggu terhadap area yang terluka sudah cukup efektif (52). Hingga kini belum ada riset yang berhasil membandingkan efektivitas terapi lintah dengan kasus medis yang melibatkannya. Angka ini sangat relatif, ditambah lagi ada begitu banyak praktik penggunaan terapi lintah untuk menangani beragam penyakit. Angka kesembuhan pun bisa jadi relatif bagi setiap orang yang berada di tempat berbeda hingga yang menggunakan metode penyembuhan tertentu. Namun ada satu benang merah yang sama, yaitu banyak laporan kesuksesan setelah menggunakan terapi lintah dalam menangani penyakit.

Tidak sah rasanya berbicara argumen tanpa memaparkan fakta. Contohnya adalah seorang perempuan yang mengalami luka pada area hidungnya hingga harus mengikuti prosedur operasi. Pengobatannya tidak hanya sampai di situ. Setelah itu, selama 9 bulan penuh ia mengikuti terapi lintah secara konsisten hingga mendapatkan hasil yang sempurna dan nyaris tanpa bekas (17). Dari contoh kasus ini, terbukti bahwa penerapan terapi lintah untuk mengatasi kekurangan jaringan lunak pascaoperasi bisa berhasil. Angka kesuksesannya mencapai 100 persen. Bahkan di tahun 1996, untuk pertama kalinya beberapa peneliti melaporkan bahwa penggunaan lintah berhasil membantu penyembuhan pria berusia 37 tahun yang organ vitalnya mengalami amputasi total (61). Proses replantasi kulit berlangsung sukses dipadukan dengan hirudotherapy. Bahkan pasien yang menjalani terapi pengobatan lintah bisa sembuh normal tanpa bekas. Organ vitalnya pun bisa berfungsi seperti sedia kala (62).

Bahkan belum lama ini, terapi lintah juga ampuh digunakan dalam proses penyembuhan 6 pasien yang mengalami penyumbatan saluran vena. Pada awalnya, kasus pasien ini tidak bisa disembuhkan lewat prosedur operasi biasa. Kemudian terapi menggunakan media lintah dilakukan selama 14 hari berturut-turut dengan pola yang terus sama. Hasilnya benar-benar mencengangkan, seluruh area yang dioperasi sembuh seperti sedia kala (52).

Terapi Lintah dan Kanker

Di tahun 2008, penyakit kanker menjadi momok karena memegang porsi 13 persen penyebab utama dari seluruh kasus kematian di dunia secara global. Bahkan diprediksi angka ini akan terus melonjak naik dalam rentang waktu 2 dekade ke depan. Di tahun 2030, diprediksi akan ada 13,2 juta kasus kematian akibat kanker (64). Berangkat dari fakta mengejutkan ini, manfaat dari terapi lintah kembali disebut dan menjadi sorotan. Beberapa penelitian pernah menyoroti sekaligus mengkritisi mengapa terapi lintah tidak dilibatkan sepenuhnya dalam menangani kasus penyakit kanker. Padahal efektivitas peran lintah telah terbukti. Bahkan air liur lintah dan ekstraknya yang bersifat anti-metastatic berpotensi digunakan untuk mengatasi tumor itu sendiri, secara langsung.

Penggunaan lintah sebagai agen anti-metastatic terinspriasi dari beberapa fungsi zat pembeku seperti warfarin dan heparin (65). Kombinasi dan perpaduan luar biasa dari begitu banyak anticoagulant serta komponen lain dalam air liur lintah bisa jadi jauh lebih berkhasiat dibandingkan dengan obat anti-metastatic sekalipun (66). Ekstrak kelenjar liur dari lintah H. Ghilianii dan Haementeria Officinalis menghasilkan kolonisasi metastatik dari sel tumor. Fakta ini diperoleh dari eksperimen terhadap hewan (66). Hasil berikutnya kian mengejutkan. Ghilanten bisa menekan risiko melanoma, kanker payudara, kanker paru-paru, hingga kanker prostat (68). Penelitian lain juga menyebutkan bahwa liur lintah bisa mencegah perkembangan sel tumor di paru-paru, payudara, kandung kemih, leukemia, hingga kelenjar getah bening (65).

Lintah asal Meksiko, Haementeria Officinalis juga menjadi objek dari begitu banyak penelitian ilmiah di bidang medis. Hasilnya terungkap bahwa aktivitas anti-metastatic dari sekresi kelenjar liur lintah ini menghasilkan begitu banyak menfaat. Liur dari lintah Meksiko ini mengandung protein 17-kDa yang disebut antistasin. Protein ini berperan sebagai garda terdepan yang dapat mencegah kolonisasi kanker paru-paru. Pada tahun 2010, untuk pertama kalinya peneliti lain menggambarkan bahwa terapi selama 2 bulan ke area tertentu yang mengalami luka menggunakan terapi dari lintah H. Medicinalis bisa sepenuhnya menyembuhkan rasa sakit pasien kanker ginjal (71). Fakta demi fakta terus terkuak. Bahkan belum lama ini, terbukti bahwa ekstrak liur dari lintah H. Manillensis mencegah perkembangbiakan sel kanker paru-paru.

Komplikasi Diabetes Mellitus

Bagaimana dengan diabetes mellitus? Penyakit diabetes mellitus terjadi karena metabolisme tubuh yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Sebagai akibatnya, level gula darah melonjak naik dan bisa menyebabkan beragam komplikasi (73). Angka penderita diabetes terus bertambah dan diyakini sebagai ancaman baru di bidang medis secara global. Prediksi akan ancaman penyakit ini pun cukup mencengangkan. Di tahun 2030, diperkirakan ada 366 juta pasien diabetes di seluruh dunia (74). Dari penelitian di berbagai literatur, terungkap bahwa belum ada dokumentasi yang membuktikan bahwa terapi lintah berfungsi sebagai medikasi anti-hyperglycemic. Di sisi lain, sejak puluhan tahun lalu pengobatan medis tradisional telah menggunakan lintah sebagai media pengobatan penyakit diabetes. Hal ini terjadi karena banyak ukuran relatif dari kesembuhan dan efektivitas sebuah metode medis, terutama yang belum disepakati secara global.

Penyebab terbesar kedua meninggalnya pasien diabetes adalah serangan jantung. Hal ini merupakan imbas dari komplikasi dalam fungsi metabolisme tubuh pasien (73). Protein dalam liur lintah bisa memberi manfaat tersendiri untuk mengatasi hal ini. Hirudin memegang peran penting dalam mencegah penyumbatan darah karena kemampuannya mengikat thrombin dan mencegah konversi fibrinogen menjadi fibrin. Hal ini penting dalam proses penyembuhan (32). Sementara Calin, zat yang ada pada lintah H. Medicinalis terbukti bisa membentuk thrombi (43).

Spesies lintah liar seperti Whitmania Pigra dari Hirudiniae telah lama digunakan dalam pengobatan medis Cina. Fungsinya adalah untuk memperbesar sekaligus melancarkan aliran darah ke seluruh tubuh serta mencegah gangguan dalam fungsi pembekuan darah. Dilaporkan juga bahwa ekstrak dari spesies lintah ini berpotensi dalam proses dan aktivitas pembekuan darah (76). Pada tahun 2002, didirikan pusat terapi lintah yang memiliki fokus pada proses penanganan pasien dengan diabetes mellitus. Pendiri tempat ini bahkan mengaku menggunakan 4 lintah sekaligus dalam satu sesi pengobatan terhadap seorang pasien. Bahkan dalam kasus yang lebih ekstrem, penggunaan lebih banyak lintah bisa mencegah terjadinya amputasi (75). Mendukung rentetan fakta tersebut, belum lama ini ditemukan hasil riset bahwa air liur lintah dari H. Manillensis yang diterapkan pada tikus eksperimen menghasilkan aktivitas zat anti-hyperglycemic.

Infeksi Penyakit Menular

Terus meningkatnya penularan infeksi tentu berkaitan erat dengan tingginya konsumsi antibiotik yang dijual komersil. Akibatnya? Muncul fenomena resistensi terhadap bakteri. Berangkat dari hal ini, peneliti terus merancang strategi baru untuk menemukan mekanisme mengalahkan antibiotik yang tidak membuat resistensi terhadap bakteri (78). Banyak peneliti yang fokus pada pentingnya terapi lintah dalam dunia medis menyebut bahwa memang lintah efektif dalam menangani hal ini. Namun tidak ada detil yang diberikan lebih lanjut, terkait protokol prosedurnya atau bagaimana komponen aktif di dalamya. Contohnya saja, ada hasil riset bahwa terapi lintah digunakan dokter gigi tradisional untuk mengatasi infeksi pada gigi dan mulut seperti periodontitis dan abses alveolar (21). Terlepas dari itu, lagi-lagi terbukti bahwa penggunaan terapi lintah di bidang medis membawa manfaat tersendiri.

Namun ada satu hal yang perlu dilakukan. Protein yang menjalankan fungsi destabilisasi seperti lysozyme tidak dilibatkan dalam terapi lintah. Protein ini disebut-sebut memiliki komponen anti-bakteri yang bisa menghancurkan komponen selular lainnya (80). Contohnya adalah theromacin dan theromyzin dalam lintah T. Tessulatum berfungsi berlawanan dengan bakteri Micrococcus Luteus (82). Bahkan, sistem saraf dari lintah asal Eropa H. Medicinalis bisa menciptakan respon anti-microbial setelah terjadi kecelakaan. Ada 3 zat yang berbeda teridentifikasi dari spesies lintah ini.

Belum lama, ini beberapa peneliti mematenkan penggunaan ekstrak lintah dari beragam E. Coli spesies keluarga Hirudinidae sebagai agen anti-microbial. Mereka berargumen bahwa ekstrak yang diperoleh dari  tubuh lintah, terutama kelenjar liurnya, akan menciptakan aktivitas anti-microbial terhadap bakteri tertentu seperti Shewanella dan Aerococcus Viridans. Peneliti ini juga menekankan bahwa ekstrak lintah bisa digunakan untuk menangani penyakit yang berkaitan dengan bakteri seperti radang sendi dan infeksi lainnya. Bahkan ada hal menarik lain yang mereka temukan. Ekstrak dari lintah bisa menjadi pembersih untuk sterilisasi produk rumah sakit, bahkan juga bisa diaplikasikan untuk barang-barang rumah tangga (78). Kabar baik lainnya, kelenjar liur dari lintah H. Manillensis memiliki spektrum luas yang bisa melawan bakteri S. Aureus, Sal. Typhi, hingga (85).

Terapi Lintah untuk Kasus Kesehatan Lainnya

Memang belum ada pemaparan resmi tentang manfaat dari terapi lintah bagi dunia medis. Namun banyak juga kasus kesehatan gigi yang menggunakan lintah sebagai cara pengobatannya (21). Hal ini terutama terkait dengan pengelolaan aliran darah pasca-operasi. Ada juga penggunaan lintah dalam kasus pembengkakan gusi (17).

Selain gigi, upaya mengatasi masalah dalam pendengaran juga melibatkan lintah dalam proses penyembuhannya. Pada suatu kasus, terapis menggunakan 2 lintah; satu ditempatkan di belakang telinga dan satu lagi ditempatkan di liang telinga. Terapi ini diulangi hingga 3 kali selama 4 hari. Dan hasilnya, terapi lintah terbukti memperbaiki masalah pendengaran yang dialami oleh pasien (17).

Dari seluruh penerapan terapi lintah dalam kasus medis, tetap perlu diwaspadai komplikasi atau jika terjadi ketidakcocokan dengan pasien. Kasus infeksi adalah yang paling sering terjadi pada 2 hingga 36 persen pasien (51). Di sisi lain, jangan khawatir karena belum pernah ada kasus penularan penyakit akibat penggunaan lintah karena tenaga medis diimbau untuk hanya menggunakan 1 lintah pada sekali percobaan (17).

Kesimpulan

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terapi medis menggunakan lintah adalah cara yang sudah populer digunakan sejak bertahun-tahun lalu oleh tenaga medis tradisional. Kini, terapi lintah mulai diadopasi pada pengobatan kontemporer yang didukung hasil penelitian ilmiah dan studi kasus. Masih perlu banyak penelitian dan pengembangan untuk memaksimalkan fungsi dari terapi lintah bagi kesehatan.

 

Online Only

Kami hanya melayani penjualan via online